Skip to main content

Beasiswa untuk Mendorong Educational Justice

By September 24, 2026Oktober 2nd, 2026Pendidikan

Foto: Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Dodik Ridho Nurrochmat (tengah, berbaju abu-abu) berpose dalam kegiatan penyerahan beasiswa mahasiswa dari Yayasan Korindo

BOGOR – Pendidikan tinggi seharusnya menjadi ruang yang terbuka bagi setiap anak bangsa, terlepas dari latar belakang ekonomi maupun kondisi tempat mereka tumbuh. Namun, kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi belum selalu berjalan beriringan dengan kemampuan setiap keluarga untuk membiayainya.

Di tengah kondisi tersebut, beasiswa menjadi salah satu instrumen yang dapat memperluas akses sekaligus mendukung terwujudnya educational justice atau keadilan pendidikan di Indonesia.

Hal tersebut menjadi perhatian di IPB University, termasuk bagi mahasiswa Fakultas Kehutanan dan Lingkungan. Sebagai perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), IPB memiliki mahasiswa dengan latar belakang sosial ekonomi yang beragam. Sebagian di antaranya berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas.

“Pada saat ini kurang lebih 40 persen mahasiswa IPB mendapatkan beasiswa. Secara kumulatif memang cukup banyak, tetapi sebetulnya masih belum cukup untuk memenuhi semua kebutuhan mahasiswa,” ujar Prof. Dr. Ir. Dodik Ridho Nurrochmat, M.Sc.F.Trop, Dekan Fakultas Kehutanan dan Lingkungan (Fahutan) IPB University, yang ditemui pada Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, mahasiswa penerima dukungan pendidikan tidak hanya berasal dari kelompok yang memenuhi kriteria penerima KIP Kuliah atau program beasiswa pemerintah lainnya. Terdapat pula mahasiswa yang menghadapi keterbatasan ekonomi, tetapi belum memenuhi kriteria untuk memperoleh bantuan tersebut. Kelompok inilah yang dinilai masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk dunia usaha dan lembaga sosial.

“Ada golongan mahasiswa yang sebetulnya tidak mampu, tetapi tidak masuk dalam kategori mendapatkan beasiswa Bidikmisi atau KIP Kuliah. Mahasiswa yang seperti ini yang perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Yayasan Korindo,” ujarnya.

Subsidi Silang dan Peran Banyak Pihak

Kebutuhan akan dukungan pendidikan juga tidak terlepas dari karakteristik mahasiswa IPB yang berasal dari berbagai daerah. Sebagai perguruan tinggi yang memiliki perhatian kuat terhadap pembangunan masyarakat, khususnya di wilayah perdesaan, IPB juga menjadi pilihan bagi mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah.

Kondisi tersebut membuat skema pembiayaan pendidikan di perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan studi mahasiswa.

“Sebetulnya ada 50 persen lebih mahasiswa yang harusnya mendapatkan beasiswa. Idealnya memang mungkin sampai ke 70-80 persen karena yang mampu membayar UKT penuh itu mungkin tidak sampai 20 persen. Sehingga sebagian besar mahasiswa IPB itu boleh dikatakan UKT-nya masih subsidi. Nah subsidi silang ini menjadi sangat penting selain adanya bantuan beasiswa dari pihak ketiga seperti Yayasan Korindo,” tambahnya.

Skema subsidi silang tersebut menjadi salah satu mekanisme yang memungkinkan mahasiswa dari keluarga dengan kemampuan ekonomi terbatas tetap memperoleh kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Kehadiran pihak ketiga melalui program beasiswa juga menjadi bagian dari ekosistem yang membantu memperluas dukungan bagi mahasiswa.

Dalam konteks inilah, kontribusi Yayasan Korindo menjadi salah satu bentuk dukungan yang dapat membantu mahasiswa, khususnya mereka yang membutuhkan tambahan dukungan finansial untuk melanjutkan pendidikan.

Pada akhirnya, pendidikan yang lebih adil tidak hanya dibangun oleh perguruan tinggi. Ia membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar keterbatasan ekonomi tidak menjadi alasan seorang mahasiswa harus menghentikan langkahnya.

Ketika lebih banyak pihak mengambil bagian, kesempatan untuk belajar dapat terbuka lebih luas—dan pendidikan dapat benar-benar menjadi jalan bagi setiap anak untuk membangun masa depannya. (PR)