
Foto: Mila Safitri (29) warga Kecamatan Pancoran yang memperoleh bantuan Nutrisi Kit baru saja melahirkan anak keempatnya pada November 2025 lalu
JAKARTA – Di balik gedung-gedung tinggi di kawasan Jakarta Selatan, bersemayam potret kehidupan yang menjadi realitas bagi banyak orang di ibu kota. Jauh dari gemerlap lampu sorot, hari demi hari berjalan tak seindah mimpi yang dirajut dari kampung halaman.
Realitas tersebut dialami Mila Safitri (29) yang baru saja melahirkan anak keempatnya pada November lalu. Mila, yang tinggal di kawasan Warung Buncit ini setiap harinya harus berjibaku dengan tugas-tugas rumah tangga dan mengurus buah hati. Sementara sang suami harus bekerja sebagai pengemudi ojek online.
Kesibukan dan pola asupan gizi yang tidak seimbang membuat dokter sempat mendiagnosa Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada kehamilan terakhirnya. KEK sendiri merupakan kondisi gizi yang muncul akibat ketidakseimbangan antara asupan dan pengeluaran energi dalam waktu yang lama, dan umumnya dialami oleh wanita usia subur serta ibu hamil.
KEK ditandai oleh lingkar lengan atas (LILA) ibu hamil yang berada di bawah 23,5 cm. Kekurangan Energi Kronis dapat berdampak persalinan sulit dan lama, persalinan prematur, perdarahan setelah melahirkan, dan yang terparah adalah peningkatan risiko anemia dan kematian ibu.
Di tengah kondisi ini, bantuan untuk perbaikan gizi Mila datang dari Puskesmas Pancoran dan Yayasan Korindo. Di mana selama enam bulan, Yayasan Korindo melalui Puskesmas Pancoran secara berkala memberikan Nutrisi Kit yang berisi susu ibu hamil dan bahan makanan bergizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa kehamilan.
“Bantuan ini sangat bermanfaat, terutama untuk kenaikan berat badan saya semasa kehamilan, karena sebelumnya berat badan saya di bawah rata-rata. (Setelah diberikan bantuan) berat badan naik dan lingkar lengan atas juga naik di atas rata-rata,” tandas Mila.
Hilga Tiara Dewi, Ahli Gizi dari Puskesmas Pancoran menjelaskan bahwa ibu hamil yang berat badannya kurang atau dengan kondisi KEK, membutuhkan tambahan energi hingga 500 kalori per hari. Idealnya, penambahan energi tersebut berasal dari makanan padat gizi dan tinggi protein hewani.
“Ibu hamil yang normal status gizinya, membutuhkan tambahan energi sekitar 180-300 kalori per hari. Tapi jika ada kondisi KEK, penambahan energinya bisa sampai 500 kalori per harinya. Jadi idealnya 500 kalori ini berasal dari makanan yang padat gizi dan tinggi protein hewani untuk mengejar 500 kalori itu,” ujarnya.

Foto: Setelah persalinan, kesehatan ibu dan anak juga terus dipantau oleh petugas Puskesmas
Hilga menyadari bahwa pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam menjawab seluruh tantangan pembangunan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Dengan semakin banyak pihak yang terlibat dan semakin luas kolaborasi yang terbangun, diharapkan jangkauan bantuan juga semakin besar, sehingga lebih banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaat secara merata.
“Terkait pemberian Nutri Kit untuk ibu-ibu hamil ini merupakan salah satu langkah yang tepat sasaran untuk perbaikan pencegahan stunting, ditambah lagi pemberian bantuannya bukan yang sekali terus selesai, tapi bantuan yang continue. Dari sini kita bisa melihat adakah perbedaan atau perubahan status gizi dari sebelum dan sesudah diberikan,” tambah Hilga.
Mila Safitri hanyalah satu dari sekian banyak ibu hamil yang merasakan peningkatan status gizi berkat kolaborasi strategis antara Yayasan Korindo dan instansi terkait. Sinergi ini menunjukkan bahwa kerja sama lintas sektor mampu menghadirkan intervensi gizi yang tepat sasaran dan berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesehatan ibu dan anak.
Melalui kolaborasi lintas sektor, Yayasan Korindo menghadirkan inisiatif sosial yang tidak hanya menjawab kebutuhan yang tepat sasaran, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. (PR)

